Waduk widas
TUGAS
TERSTRUKTUR
EKOLOGI
PERAIRAN
Waduk
Widas
Oleh :
Indi
Ariestamaya H1H011013
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL
SOEDIRMAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN PERIKANAN DAN
KELAUTAN
PURWOKERTO
2012
I.
PENDAHULUAN
Waduk menurut pengertian umum adalah tempat pada permukaan
tanah yang digunakan untuk menampung air saat terjadi kelebihan air / musim
penghujan sehingga air itu dapat dimanfaatkan pada musim kering. Sumber air
waduk terutama berasal dari aliran permukaan dtambah dengan air hujan langsung.
Telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya sama dengan
danau; kolam; perigi; balong: sumur pengeboran sumber minyak tanah; bendungan, dam, empang, luak, mata
air, sendang, situ/setu, sumber, sumur, tambak, tasik. Telaga atau danau
merupakan cekungan di daratan
yang terisi air. Arti danau adalah suatu cekungan pada permukaan bumi yang
memiliki kriteria, yaitu:
- Air cukup dalam dan sudah menunjukkan adanya strata
temperatur bedasarkan kedalamannya.
- Vegetasi atau tumbuhan almatik yang mengapung di atas permukaan air tidak cukup menutupi seluruh permukaan air dan hanya berada pada pinggiran saja.
- Sudah menunjukkan adanya gelombang yang sudah mampu membentuk barrens, waresweptshore, atau shoal.
- Vegetasi atau tumbuhan almatik yang mengapung di atas permukaan air tidak cukup menutupi seluruh permukaan air dan hanya berada pada pinggiran saja.
- Sudah menunjukkan adanya gelombang yang sudah mampu membentuk barrens, waresweptshore, atau shoal.
Ada banyak sekali tipe telaga/danau. Dari ukuran dan
kedalamannyapun berbeda-beda, tergantung pada cara terbentuknya. Danau umumnya
terisi oleh air tawar, tetapi ada juga yang airnya asin, seperti Danau Kaspia
dan Danau Salt di Laut Kaspia. Air
telaga atau danau yang asin disebabkan oleh tidak adanya pelepasan air laut
sehingga air yang mengisi cekungan tersebut hanya berkurang melalui proses
penguapan. Danau air asin umumnya berada di pedalaman benua dengan kondisi
iklim kering. Danau-danau tersebut dapat surut, bahkan sampai tidak ada air
seperti pada musim kering yang cukup panjang. Danau tersebut disebut Danau
Temporer. Danau yang luas kadang kala dinamakan laut: misalnya Laut
Kaspia dan Laut Aral.
Pada umumnya kedalaman danau
bervariasi antara 50 – 200 m, akan tetapi banyak juga yang mempunyai kedalaman
lebih rendah dari 50 m. Sampai saat ini sebagian besar danau belum diketahui
volumenya dengan pasti, demikian juga halnya presipitasi, evaporasinya serta
debit inflow dan outflow-nya. Dengan demikian waktu tinggal air danau tidak
diketahui sehingga daya tampung beban pencemaran tidak diketahui dan sekaligus
pemanfaatan bagi berbagai keperluan sulit untuk diprogramkan.
Waduk sering juga
disebut danau buatan yang besar. Menurut Komisi Dam Dunia, Bendungan/Waduk
besar adalah bila tinggi bendungan lebih dari 15 m . Sedangkan embung merupakan
waduk kecil dan tinggi bendungannya kurang 15 m. Pembangunan waduk besar di
Indonesia sampai tahun 1995 kurang lebih 100 buah, dan 80% berlokasi di Pulau Jawa. Sejak terjadi krisis moneter pada
tahun 1998, pembangunan waduk besar di Indonesia belum d ilakukan lagi kecuali
perencanaan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat. Sistem
tata air waduk berbeda dengan danau alami. Pada waduk komponen tata airnya
umumnya telah direncanakan sedemikian rupa sehingga volume, kedalaman, luas,
presepitasi, debit inflow/out flow waktu tinggal air diketahui dengan pasti.
Sumber air danau dapat
berasal dari berbagai sumber, antara lain:
- Air sungai yang mengalir ke dalam basin dan sebagai inflow.
- Air yang berasal dari hasil pencairan salju dan es/gletser.
- Air hujan yang tertangkap langsung oleh basin danau tersebut.
- Air dari aliran permukaan (over land flow) yang berasal dari air hujan yang berasal dari dari air hujan yang jatuh.
- Air yang berasal dari dalam tanah (air tanah) yang permukaannya lebih tinggi dari pada permukaan air danau sehingga air mengalir ke dalam danau.
- Air yang berasal dari mata air atau spring yang masuk ke danau tersebut.
Jumlah air telaga/danau
tidak selalu tetap, tetapi selalu mengalami fluktuasi yaitu bertambah pada
musim basah (hujan) dan berkurang pada musim kering (kemarau). Penyusutan air
danau dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
a. Penguapan
dari permukaan danau, dipengaruhi oleh temperature, perbedaan tekanan udara,
kelembaban udara, angin dan kualitas air.
b. Pengaliran
air danau melalui outlet menuju sungai dibawahnya.
c. Perembesan
air danau ke dalam tanah. Hal ini tergantung pada karakteristik batuan atau
tanah penyusun lahan sekitarnya, selain itu faktor ketinggian air tanah di
sekitar danau juga menentukan besar kecilnya kehilangan air danau tersebut.
d. Khusus
untuk bendungan dan waduk terdapat penyusutan air akibat dimanfaatkan untuk air
minum, irigasi, dan sebagainya
Volume air danau selalu
mengikuti perubahan musim. Pada danau alam, ketinggian permukaan air maksimum
dicapai pada musim penghujan, sebaliknya ketinggian air minimum dicapai pada
musim kemarau (kering). Berbeda dengan danau buatan manusia yang memiliki pintu
air, sehingga ketinggia permukaan air dapat diatur sedemikian rupa seperti
kepentingannya.
Telaga/danau/situ/waduk/embung adalah salah satu sumber air
tawar yang menunjang kehidupan semua makhluk hidup dan kegiatan sosial ekonomi
manusia. Ketersediaan sumberdaya air, sangat mendasar untuk menunjang
pengembangan ekonomi wilayah. Sumber daya air yang terbatas disuatu wilayah
mempunyai implikasi kepada kegiatan pembangunan yang terbatas dan pada akhirnya
kegiatan ekonomipun terbatas sehingga kemakmuran rakyat makin lama tercapai.
Air danau/waduk dapat digunakan untuk berbagai pemanfaatan antara lain sumber
baku air minum air irigasi, pembangkit listrik, penggelontoran, perikanan dsb.
Ekosistem danau memiliki peran penting dalam menjamin kualitas dan kuantitas
ketersediaan air tawar. Danau juga sangat peka terhadap perubahan parameter
iklim. Variasi suhu dan curah hujan misalnya, dapat langsung berpengaruh pada
penguapan air, tinggi permukaan dari volume air, keseimbangan air dan
produktivitas biologis perairan danau.
Proses Terbentuknya
Berdasarkan proses
terbentuknya, telaga atau danau dibedakan menjadi dua macam ada yang terbentuk
karena proses alam dan sering disebut sebagai Danau Alami, namun ada pula yang yang
secara sengaja dibuat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan air pertanian,
perikanan darat, air minum, dan lain sebagainya, dengan cara membendung aliran sungai dan sering
disebut sebagai Danau Buatan/Bendungan/Waduk/Dam/Cek Dam/Embung dll. Telaga atau
danau alami dapat terbentuk karena beberapa hal yaitu sebagai berikut :
- Aktivitas gletser yang mencair dan meluncur ke bawah dapat membentuk danau gletser, gletser tersebut mengikis batuan yang dilaluinya sehingga terbentuklah cekungan. Jika terisi oleh air maka terbentuklah danau. Sejumlah besar danau di dunia terbentuk oleh gletser dan lembaran es.
- Aktivitas tektonik, yaitu danau yang terbentuk oleh tenaga endogen yang bersumber dari gerakan tektonik seperti patahan dan lipatan dari dalam bumi, yang mengakibatkan permukaan tanah pada lapisan kulit bumi turun ke bawah membentuk cekungan-cekungan. Contohnya Danau singkarak, Danau Kerinci, Danau Poso Danau Tempe, Danau Tondano dan Danau Towuti di Sulawesi.
- Aktivitas vulkanik dapat membentuk Danau kawah/kaldera (crater/caldera lake atau volcanic lake). Danau Kawah adalah danau bekas kawah gunung berapi dengan sejumlah massa air (danau) yang menutupi permukaannya. Air danau berasal dari curah hujan yang tertampung pada lubang kepundan atau kaldera. Sekitar 12% dari 700-an gunung api yang ada di bumi kawahnya tertutupi oleh massa air. Di Indonesia terdapat beberapa danau kawah, yang terkenal adalah Danau Kawah Gunung Kelud, Gunung Batur, dan Gunung Galunggung, Kawah Ijen, Segara Anakan di Gunung Rinjani, serta kompleks Kelimutu, Danau Telaga di Pegunungan Dieng.
- Aktivitas Vulkano-Tektonik membentuk danau sebagai akibat gabungan proses vulkanik dan tektonik. Patahan atau depresi pada bagian permukaan bumi pasca letusan. Dapur magma yang telah kosong menjadi tidak stabil sehingga terjadi pemerosotan atau patah. Cekungan akibat patahan tersebut kemudian diisi oleh air contohnya Danau Toba di Sumatera Utara. merupakan Danau Kawah/Kaldera.
- Proses Karst (solusional), yaitu danau yang terbentuk pada daerah batu gamping yang mengalami pelarutan sehingga membentuk lahan negatif atau berada di bawah rata-rata permukaan setempat. Danau karts yang berukuran kecil disebut doline dan yang besar dinamakan uvala. Contoh : danau atau telaga di pegunungan seribu, DI Yogyakarta.
- Penyesuaian morfologi dasar sungai berupa interaksi antara arus sungai (streamflow) dengan pengangkutan bahan kikisan (debris transport) dapat membentuk Danau Tapal Kuda (oxbow lake) dan Kolam (pool). Danau Tapal Kuda (oxbow lake) terbentuk akibat proses pemotongan saluran sungai meander secara alami dan ditinggalkan oleh alirannya sehingga disebut juga kali mati. Kolam (pool) adalah morfologi dasar sungai yang dalam memiliki sedimen kasar berkerikil (gravel-bed) dengan bagian yang terbentuk (Petts 1985: 159).
g. Longsoran
dari tebing, sehingga menutupi aliran sungai dapat membentuk Danau bendungan
alami. Contoh; Danau Pengilon di Dieng dan Telaga Sarangan di perbatasan Jawa
Tengah dan Jawa Timur.
Klasifikasi Waduk
Berdasarkan
fungsinya, waduk diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu :
1.
Waduk eka guna (single purpose)
Waduk
eka guna adalah waduk yang dioperasikan untuk memenuhi satu kebutuhan saja,
misalnya untuk kebutuhan air irigasi, air baku atau PLTA. Pengoperasian waduk
eka guna lebih mudah dibandingkan dengan waduk multi guna dikarenakan tidak
adanya konflik kepentingan di dalam. Pada waduk eka guna pengoperasian yang
dilakukan hanya mempertimbangkan pemenuhan satu kebutuhan.
2.
Waduk multi guna (multi purpose)
Waduk
multi guna adalah waduk yang berfungsi untuk memenuhi berbagai kebutuhan,
misalnya waduk untuk memenuhi kebutuhan air, irigasi, air baku dan PLTA.
Kombinasi dari berbagai kebutuhan ini dimaksudkan untuk dapat mengoptimalkan
fungsi waduk dan meningkatkan kelayakan pembangunan suatu waduk.
Karakteristik Waduk
Karakteristik suatu waduk merupakan bagian pokok
dari waduk yaitu volume hidup (live
storage), volume mati (dead storage),
tinggi muka air (TMA) maksimum, TMA minimum, tinggi mercu bangunan
pelimpah berdasarkan debit rencana. Dari karakteristik fisik waduk tersebut
didapatkan hubungan antara elevasi dan volume tampungan yang disebut juga liku
kapasitas waduk. Liku kapasitas tampungan waduk merupakan data yang
menggambarkan volume tampungan air di dalam waduk pada setiap ketinggian muka
air.
Manfaat Bendungan
1. Mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sehingga dapat menghasilkan listrik.
2. Sebagai penyedia air bersih.
3. Untuk irigasi yang diperlukan untuk mengairi sawah dan ladang.
4. Sebagai tempat rekreasi.
5. Tempat hidup habitat untuk ikan dan hewan lainnya.
6. Sebagai pengendali banjir dan sebagainya.
1. Mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sehingga dapat menghasilkan listrik.
2. Sebagai penyedia air bersih.
3. Untuk irigasi yang diperlukan untuk mengairi sawah dan ladang.
4. Sebagai tempat rekreasi.
5. Tempat hidup habitat untuk ikan dan hewan lainnya.
6. Sebagai pengendali banjir dan sebagainya.
Penelitian Kualitas Air Waduk
1. Periode 1970-1980
Penelitian kualitas air waduk yang dilakukan Puslitbang Sumber Daya Air sudah dilakukan sejak tahun 1970-an. Jumlah waduk yang diteliti tidak banyak mengingat waduk yang sudah selesai dibangun pada periode tersebut juga tidak banyak. Waduk yang sudah terbangun pada priode tersebut adalah Waduk Darma, Jatiluhur di Jawa Barat, Karangkates di Jawa Timur (1972). Penelitian kualitas air waduk dilakukan terhadap waduk yang baru beroperasi digenangi dan waduk yang sudah lama beroperasi. Berdasarkan hasil penelitian pada periode tersebut kondisi kualitas air waduk masih bagus baik pada lapisan epilimnion dan hypolimnion, atau dengan kata lain masih tercemar ringan. Hal ini kita dapat mengerti oleh karena penduduk, industri, perambahan hutan belum banyak sehingga limbahnya masih dapat dibersihkan oleh sungai atau waduk itu sendiri (self purification).
2. Periode 1980 - 1995,
Penelitian kualitas air waduk awal tahun 80-an dilakukan oleh Puslitbang Sumber Daya Air dan hasilnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan tahun periode 70-an. Akan tetapi penelitian kualitas air waduk yang dilakukan pada 90-an bersama Pemerintah Filandia hasilnya mengalami perubahan dibandingkan dengan hasil tahun 80-an. Hasil penelitian kualitas air waduk 90-an menunjukkan bahwa kualitas airnya sudah banyak menurun. Penurunan kualitas air waduk tersebut disebabkan oleh pencemaran organik terutama senyawa nitrogen dan posfat yang berasal dari air limbah industri, penduduk, pertanian dan aktifitas perikanan KJA. Tingkat pencemaran waduk yang diakibatkan senyawa nitrogen, posfat, dan zat organik dapat dibagi 3 kategori yaitu:
1. Periode 1970-1980
Penelitian kualitas air waduk yang dilakukan Puslitbang Sumber Daya Air sudah dilakukan sejak tahun 1970-an. Jumlah waduk yang diteliti tidak banyak mengingat waduk yang sudah selesai dibangun pada periode tersebut juga tidak banyak. Waduk yang sudah terbangun pada priode tersebut adalah Waduk Darma, Jatiluhur di Jawa Barat, Karangkates di Jawa Timur (1972). Penelitian kualitas air waduk dilakukan terhadap waduk yang baru beroperasi digenangi dan waduk yang sudah lama beroperasi. Berdasarkan hasil penelitian pada periode tersebut kondisi kualitas air waduk masih bagus baik pada lapisan epilimnion dan hypolimnion, atau dengan kata lain masih tercemar ringan. Hal ini kita dapat mengerti oleh karena penduduk, industri, perambahan hutan belum banyak sehingga limbahnya masih dapat dibersihkan oleh sungai atau waduk itu sendiri (self purification).
2. Periode 1980 - 1995,
Penelitian kualitas air waduk awal tahun 80-an dilakukan oleh Puslitbang Sumber Daya Air dan hasilnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan tahun periode 70-an. Akan tetapi penelitian kualitas air waduk yang dilakukan pada 90-an bersama Pemerintah Filandia hasilnya mengalami perubahan dibandingkan dengan hasil tahun 80-an. Hasil penelitian kualitas air waduk 90-an menunjukkan bahwa kualitas airnya sudah banyak menurun. Penurunan kualitas air waduk tersebut disebabkan oleh pencemaran organik terutama senyawa nitrogen dan posfat yang berasal dari air limbah industri, penduduk, pertanian dan aktifitas perikanan KJA. Tingkat pencemaran waduk yang diakibatkan senyawa nitrogen, posfat, dan zat organik dapat dibagi 3 kategori yaitu:
·
pencemaran
amat sangat berat (hypertrophic = penyuburan amat sangat berat)
·
pencemaran
berat (eutrophic = penyuburan berat), dan lain-lain pencemaran sedang
(oligotrophic = penyuburan sedang)
·
mesotrophic
(belum tercemar).
Waduk yang masuk tingkat eutrophic adalah Waduk Saguling, Cirata,
Karangkates, dan Sengguruh. Kategori oligotrofik adalah Waduk Lahor, Jatiluhur,
Muara Nusa Dua, Mrica, Kedungombo, dan yang termasuk mesotrophic adalah Waduk
Palasari, Wlingi, Malahayu, dan lain-lain.
Dari hasil penelitian kualitas air danau dan waduk di atas dapat disimpulkan bahwa semakin lama telah terjadi penurunan pada kualitas air danau dan waduk yang ada di Indonesia, hal ini disebabkan karena adanya pencemaran bahan organik pada air danau dan waduk yang disebabkan oleh limbah industri, pertanian, dan penduduk.
Dari hasil penelitian kualitas air danau dan waduk di atas dapat disimpulkan bahwa semakin lama telah terjadi penurunan pada kualitas air danau dan waduk yang ada di Indonesia, hal ini disebabkan karena adanya pencemaran bahan organik pada air danau dan waduk yang disebabkan oleh limbah industri, pertanian, dan penduduk.
Pengelolaan Danau dan Waduk
Danau dapat memiliki manfaat serta fungsi seperti untuk irigasi pengairan sawah, ternak serta kebun, sebagai objek pariwisata, sebagai PLTA atau Pembangkit Listrik Tenaga Air, sebagai tempat usaha perikanan darat, sebagai sumber penyediaan air bagi makhluk hidup sekitar dan juga sebagai pengendali banjir dan erosi.
Sesuai dengan UU. No. 7 Tahun 2004 tentang SumberDaya Air, yang terdiri 3 komponen utama yaitu konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air. Waduk embung, situ dan danau yang merupakan sumber daya air telah banyak banyak mengalami penurunan fungsi dan kerusakan ekosistem. Hal ini disebabkan oleh karena pengelolan waduk/danau yang banyak mengalami kendala. Dalam UU-Sumber Daya Air telah mengamanatkan untuk melakukan pengelolaan waduk dengan melakukan konservasi, pemanfaatan, pengendalian daya rusak air. Selain itu masih ada peraturan lain seperti PP. No. 51 Tahun 1997, tentang Lingkungan Hidup; PP. No. 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; PP. No. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung; Kep. Pres No.123/2001, tentang koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada tingkat Propinsi, Wilayah Sungai, Kabupaten dan Kota serta Keputusan Menteri yang terkait tentang pengelolaan sumber daya air. Walaupun sudah banyak undang–undang atau peraturan yang diundangkan tentang pengelolaan sumber daya air dan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air akan tetapi pada kenyataannya konservasi sumber daya air, pengendalian daya rusak air terhadap sumber daya air pada danau dan waduk, situ, embung dan sungai masih jauh dari harapan malahan semakin rusak baik kuantitas maupun kualitas airnya.
Danau dapat memiliki manfaat serta fungsi seperti untuk irigasi pengairan sawah, ternak serta kebun, sebagai objek pariwisata, sebagai PLTA atau Pembangkit Listrik Tenaga Air, sebagai tempat usaha perikanan darat, sebagai sumber penyediaan air bagi makhluk hidup sekitar dan juga sebagai pengendali banjir dan erosi.
Sesuai dengan UU. No. 7 Tahun 2004 tentang SumberDaya Air, yang terdiri 3 komponen utama yaitu konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air. Waduk embung, situ dan danau yang merupakan sumber daya air telah banyak banyak mengalami penurunan fungsi dan kerusakan ekosistem. Hal ini disebabkan oleh karena pengelolan waduk/danau yang banyak mengalami kendala. Dalam UU-Sumber Daya Air telah mengamanatkan untuk melakukan pengelolaan waduk dengan melakukan konservasi, pemanfaatan, pengendalian daya rusak air. Selain itu masih ada peraturan lain seperti PP. No. 51 Tahun 1997, tentang Lingkungan Hidup; PP. No. 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; PP. No. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung; Kep. Pres No.123/2001, tentang koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada tingkat Propinsi, Wilayah Sungai, Kabupaten dan Kota serta Keputusan Menteri yang terkait tentang pengelolaan sumber daya air. Walaupun sudah banyak undang–undang atau peraturan yang diundangkan tentang pengelolaan sumber daya air dan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air akan tetapi pada kenyataannya konservasi sumber daya air, pengendalian daya rusak air terhadap sumber daya air pada danau dan waduk, situ, embung dan sungai masih jauh dari harapan malahan semakin rusak baik kuantitas maupun kualitas airnya.
Beberapa faktor yang menyebabkan kendala
dalam melakukan pengelolaan sumber daya air antara lain:
a. Banyaknya instansi yang terkait dalam melakukan pengelolaan DAS waduk, yaitu setiap instansi lebih mementingkan sektornya dari pada konservasinya.
b. Banyaknya instansi yang terkait dalam pemanfaatan air danau atau waduk sehingga menimbulkan konflik kepentingan.
c. Perbedaan batas ekologis dan administratif, sehingga ada keengganan pemerintah tempat berlokasinya danau/waduk untuk melakukan upaya konservasi yang optimal.
d. Masih lemahnya kapasitas kemampuan instansi pengelola dalam melakukan konservasi.
e. Kurangnya pemahaman dan kesadaran, pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan konservasi bagi penduduk yang ada di sekitar DAS ataupun penduduk yang bermukim di sekitar danau/waduk.
a. Banyaknya instansi yang terkait dalam melakukan pengelolaan DAS waduk, yaitu setiap instansi lebih mementingkan sektornya dari pada konservasinya.
b. Banyaknya instansi yang terkait dalam pemanfaatan air danau atau waduk sehingga menimbulkan konflik kepentingan.
c. Perbedaan batas ekologis dan administratif, sehingga ada keengganan pemerintah tempat berlokasinya danau/waduk untuk melakukan upaya konservasi yang optimal.
d. Masih lemahnya kapasitas kemampuan instansi pengelola dalam melakukan konservasi.
e. Kurangnya pemahaman dan kesadaran, pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan konservasi bagi penduduk yang ada di sekitar DAS ataupun penduduk yang bermukim di sekitar danau/waduk.
II.
PEMBAHASAN
Waduk Widas, adalah sebuah waduk atau bendungan. Berlokasi di kecamatan Saradan, berjarak 40 km ke arah timur dari kota Madiun. Luas waduk 860 km persegi, fasilitas wisata yang ada
berupa wisata air pemancingan, taman main anak anak, kios, dermaga dan beberapa
perahu speed boot namun jumlahnya terbatas, selain itu dapat dikembangkan
menjadi olah raga air, dapat dibangun lapangan olah raga tenis, loco trip
(kereta) di dalam hutan, tempat penginapan, rumah makan. Pada saat ini Waduk
Widas dikelola oleh Jasa Tirta.
Waduk Widas atau yang sering di
sebut dengan Waduk Bening ini merupakan bagian dari DAS (Daerah Aliran Sungai)
Brantas. Bendungan yang berada di wilayah Perum Perhutani Saradan ini terletak
di Dusun Widas, Desa Pajaran, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Fungsi utama
dari dibangunnya bendungan ini sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Selain untuk pembangkit listrik, juga digunakan untuk obyek wisata oleh
pemerintah setempat. Pada hari libur nasional seperti libur tahun baru dan
libur hari raya,di lokasi ini sering diadakan panggung dangdut sebagai agenda
tahunan yang sengaja di gelar untuk memberikan hiburan kepada
masyarakat sekitar. Selain itu, lokasi Waduk Widas ini juga sering
dimanfaatkan sebagai lokasi kemah pramuka karena lokasinya yang memang sangat
ideal. Bagi yang hobi memancing, disinilah tempat yang
nyaman dan tepat untuk menyalurkan hobi anda.
Profil
Waduk Widas
- Lokasi : Dusun Widas, Desa Pajaran, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun.
- Fungsi : Sebagai pembangkit listrik (fungsi utama) dan Obyek wisata.
- · Daya Tarik Wisata : Keindahan waduk dengan pemandangan alam yang masih asri (daya tarik utama), tempat yang ideal untuk memancing.
- Fasilitas Wisata : Aula pertemuan, taman bermain anak, arena out bound, warung makan, musholla, sewa perahu.
- Aksesibilitas : Pintu masuk obyek wisata berada di jalur jalan raya Surabaya-Madiun, sekitar 40 Km dari pusat Kota Madiun (ke arah timur) atau 15 Km dari Kota Caruban (ke arah timur).
- Tiket Masuk : Rp. 2.500,00
Proyek Irigasi Widas
merupakan rangkaian proyek-proyek yang dilaksanakan oleh Badan Pelaksana Proyek
Induk Pengembangan Wilayah Sungai Brantas, Direktorat Jendral Pengairan,
Departemen Pekerjaan Umum. Bendungan Bening atau yang lazim disebut Bendungan
Widas terletak di Dukuh Petung, desa Pajaran, Kecamatan Saradan, Kabupaten
Madiun, +15 Km disebelah barat kota Nganjuk.
Lokasi bendungan berada pada Kali Bening
yang bermata air di Gunung Wilis. Di sisi utara Kali Bening terdapat Gunung
Pandan dan Pegunungan Kendeng.
Manfaat dan tujuan dibangun Bendungan Bening yaitu :
Manfaat dan tujuan dibangun Bendungan Bening yaitu :
- Menyediakan air irigasi untuk daerah seluas 9.120 ha.
- Mengendalikan banjir
- Membangkitkan tenaga listrik dengan daya terpasang sebesar 1x650 kW
- Manfaat lainnya adalah untuk Pengembangan Pariwisata dan perikanan darat
Pembangunan
Studi kelayakan Proyek Irigasi Widas dan DAM Bening sebagi salah satu proyek yang diusulkan dalam studi Pengembangan Wilayah Daerah Aliran Sungai Kali Brantas pada tahun 1972, dimulai pada tahun 1976 dilanjutkan dengan pekerjaan Investigasi dan Design Report.
Pembangunan Bendungan Bening dilaksanakan dari tahun anggaran 1978/1979 sampai dengan tahun 1981/1982.
Pelaksana pembangunan adalah :
Studi kelayakan Proyek Irigasi Widas dan DAM Bening sebagi salah satu proyek yang diusulkan dalam studi Pengembangan Wilayah Daerah Aliran Sungai Kali Brantas pada tahun 1972, dimulai pada tahun 1976 dilanjutkan dengan pekerjaan Investigasi dan Design Report.
Pembangunan Bendungan Bening dilaksanakan dari tahun anggaran 1978/1979 sampai dengan tahun 1981/1982.
Pelaksana pembangunan adalah :
Pekerjaan
konstruksi sipil : Proyek Brantas
s/d tahun 1980/1981 dan mulai tahun 1981/1982 oleh PT. Brantas Abibraya (Persero).
Pekerjaan konstruksi baja : pintu-pintu dibuat oleh Marushima Hydraulic Gate Works Ltd, dipasang oleh Marusei Heavy Industri Works Ltd. dan PT. Barata Indonesia, sedangkan Generator dan turbin oleh Mitsui & Co. Ltd. Pengawasan dilakukan oleh Nippon Koei Co. Ltd., Proyek Brantas.
Peresmian
Bendungan Bening diresmikan pada tanggal 6 Nopember 1981 oleh Menteri Pekerjaan Umum DR.Ir. Poernomosidi Hadjisarosa, ditandai dengan penutupan pintu Terowongan Pengelak.
Pekerjaan konstruksi baja : pintu-pintu dibuat oleh Marushima Hydraulic Gate Works Ltd, dipasang oleh Marusei Heavy Industri Works Ltd. dan PT. Barata Indonesia, sedangkan Generator dan turbin oleh Mitsui & Co. Ltd. Pengawasan dilakukan oleh Nippon Koei Co. Ltd., Proyek Brantas.
Peresmian
Bendungan Bening diresmikan pada tanggal 6 Nopember 1981 oleh Menteri Pekerjaan Umum DR.Ir. Poernomosidi Hadjisarosa, ditandai dengan penutupan pintu Terowongan Pengelak.
Informasi Infrastruktur Waduk Widas
Propinsi : Jawa Timur
Sektor
:
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air
Tahun
Mulai :
1977
Tahun
Selesai :
1984
Tipe
:
Urugan tanah homogin
Tinggi
Diatas Dasar Sungai : 31,60 m
Tinggi
Diatas Galian : 35,60 m
Panjang
Puncak : 700 m
Lebar
Puncak :
8,00 m
Volume
Tubuh Bendungan : 890000 m
Konsultan
: Nippon
Koei Co Ltd
Kontraktor
: Proyek
Brantas
Manfaat
:
Irigasi 8600 ha, listrik 0,65 MW
Lokasi
:
Pajaran/Sardan, Madiun-Jawa Timur
Coordinates : 7°32'26"S
111°47'15"E
Nearby cities :
Caruban,
Desa Sidomulyo Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun Madiun City
Kode Pos :
63157
Biota
ikan yang terdapat dalam waduk widas diantara lain adalah sebagai berikut :
1. Ikan Wader
Klasifikasi
:
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Pisces
Sub
Class : Teleostei
Ordo
: Cypriniformes
Sub Ordo : Ostariophysi
Famili
: Cyprinidae
Genus
: Rasbora
Spesies : Rasbora
jacobsoni
2.
Ikan
Nila
Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum :
Chordata
Class : Osteichthyes
Sub Class : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Sub Ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Class : Osteichthyes
Sub Class : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Sub Ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus
3. Ikan
Gabus
Klasifikasi :
Kingdom :Animalia
Phylum :Chordata
Class :Actinopterygii
Ordo :Perciformes
Famili :Channidae
Genus :Channa
Spesies :Channa striata
Klasifikasi :
Kingdom :Animalia
Phylum :Chordata
Class :Actinopterygii
Ordo :Perciformes
Famili :Channidae
Genus :Channa
Spesies :Channa striata
4. Ikan
Mujair
Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class :
Pisces
Sub Class : Teleostei
Ordo :
Percomorphi
Sub Ordo :
Percoidea
Genus :
Oreochromis
Spesies : Oreochromis mossambicus
Terdapat
juga beberapa rusa, dan burung seperti Elang tiram (Pandion haliaetus),
dan Takur ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala). Selain waduk, kita juga bisa
menemukan kebun binatang mini di sini, beberapa olahraga air juga tersedia
seperti banana boat dan tentu saja seperti di waduk-waduk lainya, kita bisa
menyewa perahu keliling waduk hanya dengan 10 ribu per orang.
III.
KESIMPULAN
1. Waduk Widas, adalah sebuah waduk atau bendungan. Berlokasi di kecamatan Saradan, berjarak 40 km ke arah timur dari kota Madiun. Luas waduk 860 km persegi, fasilitas wisata yang ada
berupa wisata air pemancingan, taman main anak anak, kios, dermaga dan beberapa
perahu speed boot namun jumlahnya terbatas, selain itu dapat dikembangkan
menjadi olah raga air, dapat dibangun lapangan olah raga tenis, loco trip
(kereta) di dalam hutan, tempat penginapan, rumah makan. Pada saat ini Waduk
Widas dikelola oleh Jasa Tirta.
2. Manfaat dan tujuan dibangun
Bendungan Bening yaitu :
·
Menyediakan air irigasi untuk daerah
seluas 9.120 ha.
·
Mengendalikan banjir
·
Membangkitkan tenaga listrik dengan daya
terpasang sebesar 1x650 kW
3.
Waduk widas mempunyai biota air antara
lain ikan wader, ikan nila, ikan gabus, dan ikan mujair. Terdapat pula hewan
darat antara lain rusa, burung elang tiram, dan burung takur ungkut-ungkut.
DAFTAR PUSTAKA
Asmoro,
Guntur. 2012. Wisata Madiun. http://wisataapik.blogspot.com/2012_01_01_archive.html. Diakses Tanggal 10 November 2012.
Direktori Data dan
Informasi Kementerian Pekerjaan Umum. 2012. Bendungan Bening (Widas). http://pustaka.pu.go.id/new/infrastruktur-bendungan-detail.asp?id=162.
Diakses Tanggal 10 November 2012.
Ichwan.
Kali Bening Waduk Widas. http://wikimapia.org/1692539/Kali-Bening-Waduk-Widas. Diakses Tanggal 10 November 2012.
Indi. 2009. Indonesian
indigenouse fish. http://indoindifish.blogspot.com/2009/02/ikan-wader-rasbora-jacobsoni.htm. Diakses
Tanggal 10 November 2012.
Jusieprutz. 2010. Bendungan Bening. http://bendunganbening.blogspot.com/2010_01_01_archive.html. Diakses Tanggal 10 November 2012.
Petoah. Ikan Mujair. http://www.scribd.com/doc/3089783/ikan-mujair.
Diakses Tanggal 10
Novermber 2012.
Novermber 2012.
Sichengger. 2011. Waduk Widas Tempat Memancing. http://sichengger.wordpress.com/2011/08/18/waduk-widas-tempat-memancing/#more-227). Diakses Tanggal 10 November 2012.
Suharyadi,
Reki. 2011. Pembudidayaan Ikan. http://canoscules.blogspot.com/2011/04/klasifikasi-ikan.html.
Diakses Tanggal 10 November 2012.
Sunaryo,
dkk. 2004. Pengelolaan Sumberdaya Air.
Malang : Bayumedia.
Tommy.
2009. Budidaya Ikan Nila. http://budidayanila.wordpress.com/2009/07/23/klasifikasi-ikan-nila/. Diakses Tanggal 10 November 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)


